Senin, 26 November 2012

MAKALAH Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)


MAKALAH
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
http://wosoc08.gunadarma.ac.id/logo/Gunadarma-100.jpg
Di Susun Oleh :
Nama                                          Npm
M. Candra Sadam                         24410652
Rizki M. Faisal                               26410139
Zantio P                                           28410828
Asep M. Nawawi                  21410172

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JURUSAN TEKNIK MESIN
DEPOK
2012

Bab I
PENDAHULUAN
Masyarakat pertama kali mengenal tenaga nuklir dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II tahun 1945. Sedemikian dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh bom tersebut sehingga pengaruhnya masih dapatdirasakan sampai sekarang. Di samping sebagai senjata pamungkas yang dahsyat, sejak lamaorang telah memikirkan bagaimana cara memanfaatkan tenaga nuklir untuk kesejahteraanumat manusia. Sampai saat ini tenaga nuklir, khususnya zat radioaktif telah dipergunakansecara luas dalam berbagai bidang antara lain bidang industri, kesehatan, pertanian,peternakan, sterilisasi produk farmasi dan alat kedokteran, pengawetan bahan makanan,bidang hidrologi, yang merupakan aplikasi teknik nuklir untuk non energi. Salah satupemanfaatan teknik nuklir dalam bidang energi saat ini sudah berkembang dan dimanfaatkansecara besar-besaran dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga nuklir (PLTN), dimana tenaganuklir digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik yang relatif murah, aman dan tidak mencemari lingkungan.
Pemanfaatan tenaga nuklir dalam bentuk PLTN mulai dikembangkan secara komersialsejak tahun 1954. Pada waktu itu di Rusia (USSR), dibangun dan dioperasikan satu unitPLTN air ringan bertekanan tinggi (VVER = PWR) yang setahun kemudian mencapai daya 5Mwe. Pada tahun 1956 di Inggris dikembangkan PLTN jenis Gas Cooled Reactor (GCR +Reaktor berpendingin gas) dengan daya 100 Mwe. Pada tahun 1997 di seluruh dunia baik dinegara maju maupun negara sedang berkembang telah dioperasikan sebanyak 443 unit PLTNyang tersebar di 31 negara dengan kontribusi sekitar 18 % dari pasokan tenaga listrik duniadengan total pembangkitan dayanya mencapai 351.000 Mwe dan 36 unit PLTN sedang dalamtahap kontruksi di 18 negara.



Bab  II
PEMBAHASAN
Definisi PLTN
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah stasiun pembangkit listrik thermal dimana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik.PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketikadaya keluarannya konstan (meskipun boiling water reactor dapat turun hingga setengah dayanya ketika malam hari). Daya yang dibangkitkan per unit pembangkit berkisar dari 40MWe hingga 1000 MWe. Unit baru yang sedang dibangun pada tahun 2005 mempunyai daya 600-1200 MWe. Hingga tahun 2005 terdapat 443 PLTN berlisensi di dunia, dengan 441diantaranya beroperasi di 31 negara yang berbeda. Keseluruhan reaktor tersebut menyuplai17% daya listrik dunia.
Proses Pembangkitan Listrik oleh PLTN
Cara Kerja PLTN
Proses kerja PLTN hampir sama dengan proses kerja pembangkit listrik lain seperti PLTU. Yang membedakannya hanya sumber panas yang digunakan. PLTN mendapatkan sumber panas dari reaksi nuklir, sedangkan PLTU mendapatkan sumber panas dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara atau minyak bumi.

http://1.bp.blogspot.com/-_9hRkEzaiAY/Tg1UXJKHGdI/AAAAAAAAAEU/w66nqw4p9OY/s400/untitled.JPG

Reaksi fisi
Reaksi nuklir ini terjadi di dalam reaktor nuklir. Reaktor dirancang untuk memproduksi energi listrik melalui PLTN, dan hanya memanfaatkan energi panas yang timbul dari reaksi fisi. Sedangkan kelebihan neutron dalam teras reaktor akan dibuang atau diserap menggunakan batang kendali. Karena memanfaatkan panas hasil fisi, reaktor tersebut dirancang berdaya termal tinggi dari orde ratusan hingga ribuan MW. Terdapat dua jenis reaktor fisi nuklir, antara lain :
1. thermal reactor powerplant;
2. fast-breeder-reactor powerplan.

Pada reaktor termal untuk pembangkit komersial terdapat empat jenis reaktor, antara lain :
1.      Pressurized-water-reactor (PWR);
2.      Boiling Water Reactor (BWR);
3.      Gas Cooled Reactor (GCR);
4.      Pressurized Heavy Water Reactor (PHWR).

Berikut ini adalah beberapa contoh skema proses reaktor termal untuk PWR dan BWR :
http://1.bp.blogspot.com/-t17kO6oO2ns/Tg1UjiPfeaI/AAAAAAAAAEY/ykFcd5T4ooo/s400/4.JPG
http://2.bp.blogspot.com/-LqNWBUSvi7A/Tg1UqztdVDI/AAAAAAAAAEc/kT_XzbiZ7z0/s400/5.JPG

Pressurized-water-reactor (PWR)

http://1.bp.blogspot.com/-dHKGrqQPLOY/Tg1UxifiQ6I/AAAAAAAAAEg/Xh7Yvj4fE44/s400/6.JPG
http://3.bp.blogspot.com/-A7URCkAryg0/Tg1U21spa9I/AAAAAAAAAEk/dg4UX-1aCvg/s400/7.JPG

Boiling Water Reactor (BWR)
Secara singkat, proses pemanfaatan panas hasil fisi untuk menghasilkan energi listrik di dalam PLTN adalah sebagai berikut :
-   Bahan bakar nuklir melakukan reaksi fisi sehingga melepaskan energi dalam bentuk panas yang sangat besar
-    Panas dari hasil reaksi nuklir tersebut dimanfaatkan untuk menguapkan air pendingin, dapat berupa pendingin primer maupun sekunder, bergantung pada tipe reakor nuklir yang digunakan.
-   Uap air yang dihasilkan ini dipakai untuk memutar turbin sehingga menghasilkan energi kinetik
- Energi kinetik dari turbin ini selanjutnya dipakai untuk memutar generator sehingga menghasilkan arus listrik.




PLTN di Indonesia

Sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sehingga belum ada sebuah pun PLTN yang dapat dioperasikan untuk mengurangi beban kebutuhan energi listrik yang saat ini semakin meningkat di Indonesia. Padahal energi nuklir saat ini di dunia sudah cukup berkembang dengan menguasai pangsa sekitar 16% listrik dunia. Hal ini menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan. 

Berdasarkan statistik PLTN dunia tahun 2002 terdapat 439 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia dengan kapasitas total sekitar 360.064 GWe, 35 PLTN dengan kapasitas 28.087 MWe sedang dalam tahap pembangunan. PLTN yang direncanakan untuk dibangun ada 25 dengan kapasitas 29.385 MWe. Kebanyakan PLTN baru dan yang akan dibangun berada di beberapa negara Asia dan Eropa Timur. Memang di negara maju tidak ada PLTN yang baru, tetapi ini tidak berarti proporsi listrik dari PLTN akan berkurang. Di Amerika beberapa PLTN telah mendapatkan lisensi perpanjangan untuk dapat beroperasi hingga 60 tahun, atau 20 tahun lebih lama daripada lisensi awalnya.

Di Indonesia, ide pertama untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN sudah dimulai pada tahun 1956 dalam bentuk pernyataan dalam seminar-seminar yang diselenggarakan di beberapa universitas di Bandung dan Yogyakarta. Meskipun demikian ide yang sudah mengkristal baru muncul pada tahun 1972 bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan diselenggarakannya sebuah seminar di Karangkates, Jawa Timur pada tahun 1975 oleh BATAN dan Departemen PUTL, dimana salah satu hasilnya suatu keputusan bahwa PLTN akan dikembangkan di Indonesia. Pada saat itu juga sudah diusulkan 14 tempat yang memungkinkan di Pulau Jawa untuk digunakan sebagai lokasi PLTN, dan kemudian hanya 5 tempat yang dinyatakan sebagai lokasi yang potensial untuk pembangunan PLTN.

http://4.bp.blogspot.com/-XMg3eQsXxYU/Tg1U_E4HaqI/AAAAAAAAAEo/6e9NBBWHjJU/s400/8.JPG

Semenanjung Muria, Jawa Tengah

Pada perkembangan selanjutnya setelah dilakukan beberapa studi tentang beberapa lokasi PLTN, maka diambil suatu keputusan bahwa Semenanjung Muria adalah lokasi yang paling ideal dan diusulkan agar digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTN yang pertama di Indonesia. Disusul kemudian dengan pelaksanaan studi kelayakan tentang introduksi PLTN yang pertama pada tahun 1978 dengan bantuan Pemerinatah Itali, meskipun demikian, rencana pembangunan PLTN selanjutnya terpaksa ditunda, untuk menunggu penyelesaian pembangunan dan pengoperasian reaktor riset serbaguna yang saat ini bernana “GA Siwabesy” berdaya 30 MWth di Puspiptek Serpong. 

Pada tahun 1985 pekerjaan dimulai dengan melakukan reevaluasi dan pembaharuan studi yang sudah dilakukan dengan bantuan International Atomic Energy Agency (IAEA), Pemerintah Amerika Serikat melalui perusahaan Bechtel International, Perusahaan Perancis melalui perusahaan SOFRATOME, dan Pemerintah Itali melalui perusahaan CESEN. Dokumen yang dihasilkan dan kemampuan analitis yang dikembangkan dengan program bantuan kerjasama tersebut sampai saat ini masih menjadi dasar pemikiran bagi perencanaan dan pengembangan energi nuklir di Indonesia khususnya di Semenanjung Muria.

Pada tahun 1989, Pemerintah Indonesia melalui Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) memutuskan untuk melakukan studi kelayakan yang komprehensif termasuk investigasi secara mendalam tentang calon tapak PLTN di Semenanjung Muria Jawa-Tengah. Pelaksanaan studi itu sendiri dilaksanakan di bawah koordinasi BATAN, dengan arahan dari Panitia Teknis Energi (PTE), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan dilakukan bersama-sama oleh beberapa instansi lain di Indonesia.

Pada bulan Agustus tahun 1991, sebuah perjanjian kerja tentang studi kelayakan telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Perusahaan Konsultan NEWJEC Inc. Perjanjian kerja ini berjangka waktu 4,5 tahun dan meliputi pelaksanaan pekerjaan tentang pemilihan dan evaluasi tapak PLTN, serta suatu studi kelayakan yang komprehensif tentang kemungkinan pembangunan berbagai jenis PLTN dengan daya total yang dapat mencapai 7000 MWe. Sebagian besar kontrak kerja ini digunakan untuk melakukan pekerjaan teknis tentang penelitian pemilihan dan evaluasi tapak PLTN di lokasi tapak di Semenanjung Muria.

Pada 2 tahapan pekerjaan yang pertama (Step 1-2) sudah dilakukan dengan baik pada tahun 1992 dan 1993. Pada fase ini 3 buah calon tapak yang spesifik sudah berhasil dilakukan dengan studi perbandingan dan ditentukan rangkingnya. Sebagai kesimpulan didapatkan bahwa calon tapak terbaik adalah tapak PLTN Ujung Lemahabang. Kemudian tahapan kegiatan investigasi akhir (Step-3) dilakukan dengan mengevaluasi calon tapak terbaik tersebut untuk melakukan konfirmasi apakah calon tapak tersebut betul dapat diterima dan memenuhi standar internasional. Studi tapak PLTN ini akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1995. Secara keseluruhan, studi tapak PLTN di Semanjung Muria dapat diselesaikan pada bulai Mei tahun 1996. Selain konfirmasi kelayakan calon tapak di Semanjung Muria, hasil lain yang penting adalah bahwa PLTN jenis air ringan dengan kapasitas antara 600 s/d 900 MWe dapat dibangun di Semenanjung Muria dan kemudian dioperasikan sekitar tahun 2004 sebagai solusi optimal untuk mendukung sistem kelistrikan Jawa-Bali.

Pada tahun-tahun selanjutnya masih dilakukan lagi beberapa studi tambahan yang mendukung studi kelayakan yang sudah dlakukan, antara lain studi penyiapan “Bid Invitation Specification” (BIS), studi pengembangan dan evaluasi tapak PLTN, studi perencanaan energi dan kelistrikan nasional dan studi pendanaan pembangunan PLTN. Selain itu juga dilakukan beberapa kegiatan yang mendukung aktivitas desain dan pengoperasian PLTN dengan mengembangkan penelitian di beberapa fasilitas penelitian BATAN, antara lain penelitian teknologi dan keselamatan PLTN, proteksi radiasi, bahan bakar nuklir dan limbah radioaktif serta menyelenggarakan kerjasama internasional dalam bentuk partisipasi desain PLTN.

Akibat krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, maka dipandang layak dan perlu untuk melakukan evaluasi kembali tentang kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) energi khususnya kelistrikan di Indonesia. Untuk itu suatu studi perancanaan energi dan kelistrikan nasional jangka panjang “Comprehensive Assessment of Different Energy Resources for Electricity Generation in Indonesia” (CADES) yang dilakukan dan diselesaikan pada tahun 2002 oleh sebuah Tim Nasional di bawah koordinasi BATAN dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dengan dukungan IAEA.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi di Indonesia diproyeksikan meningkat di masa yang akan datang. Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 Peta Joules (PJ) pada tahun 2025. Jumlah ini adalah sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Jumlah kapasitas pembangkitan ini, sekitar 75% akan dibutuhkan di jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali). Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka energi gas akan mendominasi penyediaan energi guna pembangkitan energi listrik, sekitar 40% untuk wilayah Jamali. Energi batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30% untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% untuk akan disuplai oleh jenis energi yang lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan lainnya. Diharapkan energi nuklir dapat menyumbang sekitar 5-6% pada tahun 2025.

Mengingat situasi penyediaan energi konvensional termasuk listrik nasional di masa mendatang semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya, maka opsi nuklir dalam perencanaan sistem energi nasional jangka panjang merupakan suatu solusi yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam masalah penyediaan energi khususnya listrik di Indonesia. Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan tersebut di atas maka diharapkan pernyataan dari semua pihak yang terkait dengan pembangunan energi nasional bahwa penggunaan energi nuklir di Indonesia sudah diperlukan, dan untuk itu perlu dimulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sekitar tahun 2010, sehingga sudah dapat dioperasikan secara komersial pada sekitar tahun 2016.

BATAN sebagai Lembaga Pemerintah, berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, telah dan akan terus bekerjasama dengan Lembaga Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga dan Masyarakat Internasional, dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir di Indonesia, khususnya dalam rangka mempersiapkan pengembangan energi nuklir tersebut adalah studi dan kajian aspek energi, teknologi, keselamatan, ekonomi, lingkungan hidup, sosial-budaya, dan manajemen yang tertuang dalam bentuk rencana stratejik 2006-2010 tentang persiapan pengembangan energi nuklir di Indonesia.

Pandangan Masyarakat terhadap Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia
Seiring dengan rencana pemerintah mendirikan PLTN di Indonesia, timbul pro dan kontra dalam masyarakat mengenai hal ini. Sebagian yang kontra meninjau ari sisi sosio-kultural, politik, ekonomi, dan lingkungan dengan sedikit porsi tinjauan teknis, sedangkan pihak yang pro melihat dari sisi teknis dan implementasi pembangunannya semata dan dianggap kurang mengakomodasi pertimbangan-pertimbangan sosial, kultural, ekonomi, dan politik. Oleh karena itu, ada kesenjangan informasi yang perlu dipertemukan antara yang dilantukan oleh pihak yang pro maupun dan yang kontra. Sedikitnya porsi teknis yang dilantunkan pihak kontra sangat wajar karena latar belakang pengetahuan mereka tentang PLTN masih minim. Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi pihak pro untuk menyajikan secara benar dan objektif dari sisi sosio-kultural, politik, ekonomi, dan lingkungan dengan porsi yang lebih besar sehingga dapat mengimbangi lantunan teknisnya.
Secara garis besar, masyarakat yang kurang senang akan kehadiran PLTN dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu masyarakat awam, bagi mereka nuklir menimbulkan rasa takut karena kurang paham terhadap sifat-sifat nuklir tersebut. Yang termasuk kelompok ini antara lain : budayawan, politikus, tokoh keagamaan dan beberapa anggota musyawarah umum lainnya. Kedua adalah masyarakat yang sedikit pahamnya tentang nuklir. Mereka menyangsikan kemampuan orang Indonesia dalam mengoperasikan PLTN dengan aman, termasuk pengambilan limbah radioaktif yang timbul dari pengoperasian PLTN itu. Termasuk dalam kelompok ini adalah beberapa LSM dan kalangan akademis. Ketiga adalah kelompok masyarakat yang cukup paham tentang nuklir tetapi mereka menolak kehadiran PLTN karena mereka melihat PLTN dari kacamata berbeda sehingga keluar argument-argumen yang berbeda pula. Termasuk dalam kelompok ini adalahh beberapa pejabat dan mantan pejabat pemerintah yang pernah berhubungan dengan masalah keenergian, kelistrikan, dan penukliran.

Jenis-jenis PLTN
PLTN dikelompokkan berdasarkan jenis reaktor yang digunakan. Tetapi ada juga PLTNyang menerapkan unit-unit independen, dan hal ini bisa menggunakan jenis reaktor yangberbeda. Sebagai tambahan, beberapa jenis reaktor berikut ini, di masa depan diharapkanmempunyai sistem keamanan pasif.
ü Reaktor Fisi
Reaktor daya fisi membangkitkan panas melalui reaksi fisi nuklir dari isotop fissiluranium dan plutonium.
Selanjutnya reaktor daya fisi dikelompokkan lagi menjadi:
  • Reaktor thermal menggunakan moderator neutron untuk melambatkan atau me- moderate neutron sehingga mereka dapat menghasilkan reaksi fissi selanjutnya. Neutron yang dihasilkan dari reaksi fissi mempunyai energi yang tinggi atau dalamkeadaan cepat, dan harus diturunkan energinya atau di lambatkan (dibua thermal) olehmoderator sehingga dapat menjamin kelangsungan reaksi berantai. Hal ini berkaitandengan jenis bahan bakar yang digunakan reaktor thermal yang lebih memilih neutron lambat ketimbang neutron cepat untuk melakukan reaksi fissi.
  • Reaktor cepat menjaga kesinambungan reaksi berantai tanpa memerlukan moderator neutron. Karena reaktor cepat menggunkan jenis bahan bakar yang berbeda denganreaktor thermal, neutron yang dihasilkan di reaktor cepat tidak perlu dilambatkan gunamenjamin reaksi fissi tetap berlangsung. Boleh dikatakan, bahwa reaktor thermalmenggunakan neutron thermal dan reaktor cepat menggunakan neutron cepat dalamproses reaksi fissi masing-masing.
  • Reaktor sub kritis menggunakan sumber neutron luar ketimbang menggunakan reaksiberantai untuk menghasilkan reaksi fissi. Hingga 2004 hal ini hanya berupa konsepteori saja, dan tidak ada purwarupa yang diusulkan atau dibangun untuk menghasilkan listrik, meskipun beberapa laboratorium mendemonstrasikan dan beberapa ujikelayakan sudah dilaksanakan.
§ Reaktor thermal
§ Light water reactor (LWR)
o     
  • Boiling water reactor (WR)
  • Pressurized water reactor (PWR)
  • SSTAR, a sealed, reaktor untuk jaringan kecil, mirip PWR
  • Moderator Grafit:
o     
  • Magnox
  • Advanced gas-cooled reactor (AGR)
  • High temperature gas cooled reactor (HTGR)
  • RBMK
  • Pebble bed reactor (PBMR)
§ Moderator Air berat:
o SGHWR
o CANDU


Reaktor cepat
Meski reaktor nuklir generasi awal berjenis reaktor cepat, tetapi perkembangan reaktor nuklir jenis ini kalah dibandingkan dengan reaktor thermal.
Keuntungan reaktor cepat diantaranya adalah siklus bahan bakar nuklir yangdimilikinya dapat menggunakan semua uranium yang terdapat dalam urainum alam, dan jugadapat mentransmutasikan radioisotop yang tergantung di dalam limbahnya menjadi material luruh cepat. Dengan alasan ini, sebenarnya reaktor cepat secara inheren lebih menjaminkelangsungan ketersedian energi ketimbang reaktor thermal. Lihat juga reaktor fast breeder.Karena sebagian besar reaktor cepat digunakan untuk menghasilkan plutonium, maka reaktor jenis ini terkait erat dengan proliferasi nuklir.
Lebih dari 20 purwarupa (prototype) reaktor cepat sudah dibangun di Amerika Serikat,Inggris, Uni Sovyet, Perancis, Jerman, Jepang, India, dan hingga 2004 1 unit reaktor sedangdibangun di China. Berikut beberapa reaktor cepat di dunia:
  • EBR-I, 0.2 MWe, AS, 1951-1964.
  • Dounreay Fast Reactor, 14 MWe, Inggris, 1958-1977.
  • Enrico Fermi Nuclear Generating Station Unit 1, 94 MWe, AS, 1963-1972.
  • EBR-II, 20 MWe, AS, 1963-1994.
  • Phénix, 250 MWe, Perancis, 1973-sekarang.
  • BN-350, 150 MWe plus desalination, USSR/Kazakhstan, 1973-2000.
  • Prototype Fast Reactor, 250 MWe, Inggris, 1974-1994.
  • BN-600, 600 MWe, USSR/Russia, 1980-sekarang.
  • Superphénix, 1200 MWe, Perancis, 1985-1996.
  • FBTR, 13.2 MWe, India, 1985-sekarang.
  • Monju, 300 MWe, Jepang, 1994-sekarang.
  • PFBR, 500 MWe, India, 1998-sekarang.
Daya listrik yang ditampilkan adalah daya listrik maksimum, tanggal yang ditampilkan adalahtanggal ketika reaktor mencapai kritis pertama kali, dan ketika reaktor kritis untuk teakhir kalibila reaktor tersebut sudah di dekomisi (decommissioned).
ü Reaktor Fusi
Fusi nuklir menawarkan listrik. Hal ini masihmenjadi bidang penelitian aktif dengan skala besar seperti dapat dilihat di JET, ITER, dan Zmachine
e. Keselamatan Nuklir
Berbagai usaha pengamanan dilakukan untuk melindungi kesehatan dan keselamatanmasyarakat, para pekerja reaktor dan lingkungan PLTN. Usaha ini dilakukan untuk menjaminagar radioaktif yang dihasilkan reaktor nuklir tidak terlepas ke lingkungan baik selamaoperasi maupun jika terjadi kecelakaan. Tindakan protektif dilakukan untuk menjamin agar PLTN dapat dihentikan dengan aman setiap waktu jika diinginkan dan dapat tetapdipertahanan dalam keadaan aman, yakni memperoleh pendinginan yang cukup. Untuk inipanas peluruhan yang dihasilkan harus dibuang dari teras reaktor, karena dapat menimbulkanbahaya akibat pemanasan lebih pada reaktor. Keselamatan terpasang dirancang berdasarkansifat-sifat alamiah air dan uranium. Bila suhu dalam teras reaktor naik, jumlah neutron yangtidak tertangkap maupun yang tidak mengalami proses perlambatan akan bertambah, sehinggareaksi pembelahan berkurang. Akibatnya panas yang dihasilkan juga berkurang. Sifat ini akanmenjamin bahwa teras reaktor tidak akan rusak walaupun sistem kendali gagal beroperasi.
Penghalang Ganda
PLTN mempunyai sistem pengaman yang ketat dan berlapis-lapis, sehinggakemungkinan terjadi kecelakaan maupun akibat yang ditimbulkannya sangat kecil. Sebagaicontoh, zat radioaktif yang dihasilkan selama reaksi pembelahan inti uranium sebagian besar (> 99%) akan tetap tersimpan di dalam matriks bahan bakar, yang berfungsi sebagaipenghalang pertama. Selama operasi maupun jika terjadi kecelakaan, kelongsongan bahanbakar akan berperan sebagai penghalang kedua untuk mencegah terlepasnya zat radioaktif tersebut keluar kelongsongan. Dalam hal zat radioaktif masih dapat keluar dari dalamkelongsongan, masih ada penghalang ketiga yaitu sistem pendingin.
Lepas dari sistempendingin, masih ada penghalang keempat berupa bejana tekan dibuat dari baja dengan tebal± 20 cm. Penghalang kelima adalah perisai beton dengan tebal 1,5-2 m. Bila zat radioaktif itumasih ada yang lolos dari perisai beton, masih ada penghalang keenam, yaitu sistempengungkung yang terdiri dari pelat baja setebal ± 7 cm dan beton setebal 1,5-2 m yang kedapudara. Jadi selama operasi atau jika terjadi kecelakaan, zat radioaktif benar-benar tersimpandalam reaktor dan tidak dilepaskan ke lingkungan. Kalaupun masih ada zat radioaktif yangterlepas jumlahnya sudah sangat diperkecil sehingga dampaknya terhadap lingkungan tidak berarti.
Pertahanan Berlapis
Disain keselamatan suatu PLTN menganut falsafah pertahanan berlapis ( defence indepth). Pertahanan berlapis ini meliputi : lapisan keselamatan pertama, PLTN dirancang,dibangun dan dioperasikan sesuai dengan ketentuan yang sangat ketat, mutu yang tinggi danteknologi mutakhir; lapis keselamatan kedua, PLTN dilengkapi dengan sistempengaman/keselamatan yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi akibat-aibat darikecelakaan yang mungkin dapat terjadi selama umur PLTN dan lapis keselamatan ketiga,PLTN dilengkapi dengan sistem pengamanan tambahan, yang dapat diperkirakan dapat terjadipada suatu PLTN. Namun demikian kecelakaan tersebut kemungkinan terjadinya sedemikiansehingga tidak akan pernah terjadi selama umu uperasi PLTN.

Faktor Pencemaran Lingkungan dan Kesehatan

Faktor pokok kedua dari perbandingan ini adalah tentang polusi yang dihasilkan oleh masing-masing pembangkit listrik. Dari data yang ada, pencemaran udara dari batubara adalah jauh lebih besar daripada bahan bakar nuklir, terutama asap dari hasil pembakaran batubara dalam tungku PLTU. Meskipun berdasarka Undang-Undang No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup setiap PLTU baru diwajibkan untuk memakai "scrubbers" (flue-gas desulphurizer) untuk mengurangi kadar polutan yang dikeluarkannya, PLTU tetap memegang peranan penting datam pencemaran udara secara keseluruhan. Adapun beberapa polutan utama yang dihasilkan dari PLTU adalah sebagai berikut:
·         gas SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan berbagai penyakit pernafasan.
·         gas NOx, yang bersama dengan gas SOx adalah penyebab dari fenomena "hujan asam" yang terjadi di banyak negara maju dan berkembang, terutama yang menggantungkan produksi listriknya dari PLTB. Fenomena ini diperkirakan membawa dampak buruk bagi industri peternakan dan pertanian.
·         gas COx yang membentuk lapisan yang menyelubungi permukaan bumi dan menimbulkan efek rumah kaca ("green-house effect") yang pada akhirnya menyebabkan pergeseran cuaca yang telah terbukti di beberapa bagian dunia.
·         partikel-partikel debu selain mengadung unsur-unsur radioaktif juga berbahaya bagi kesehatan jika sampai terhirup masuk ke dalam paru-paru.
·         logam-logam berat seperti Pb,Hg,Ar,Ni,Se dan lain-lain, yang terbukti terdapat dengan kadar jauh di atas normal di sekitar PLTU.
Sebagai kondensator dari sikius uap air primer, kedua jenis pembangkit listrik di atas memanfaatkan air dari sumber yang berdekatan dengan lokasinya. Oleh karena itu polusi air yang disebabkan oleh masing-masing kurang lebih berimbang untuk ukuran generator yang sama. Sebuah PLTN rata-rata beroperasi dengan efisiensi panas 33% (40% untuk PLTU). Jadi kurang lebih dua pertiga dari panas yang dihasilkan oleh bahan bakar terpaksa dilepas ke lingkungan meialui sikius pendingin. Untuk sebuah PLT (nuktir atau batubara) dengan ukuran 1.000 MWe yang beroperasi dengan efesiensi 35%, dihasilkan sekitar 1.860 MW sisa panas. Jika air diambil dengan debit 100 m3/s, maka air yang keluar dari sikius sekunder ini akan mengalami kenaikan suhu sekitar 4,5oC, suatu angka yang cukup untuk menggangu kesetimbangan ekosistim dari organisms yang hidup di sumber air tersebut. Dampak ini akan bertambah lagi dengan adanya bahan-bahan kimia pemurni air yang dicampurkan sebelum air tersebut masuk ke sikius pendingin.
Bertentangan dengan anggapan umum, radiasi sinar-sinar radioaktif (selanjutnya akan disebut radiasi) bukanlah sumber utama polusi pada PLTN. Malah terbukti bahwa secara rata-rata untuk seorang yang tinggal sampai 1 km dari sebuah reaktor nuklir, dosis radiasi yang diterimanya dari bahan-bahan yang dipakai di reaktor tersebut adalah kurang dari 10% dari dosis radiasi alam (dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis) .
Kalau untuk tambang-tambang batubara dikenal istilah "black lung", dimana partikel batubara yang terh-irup oleh para pekerja tambang mengendap di paru-paru dan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan, para pekerja di tambang Uranium (bahan utama untuk bahan bakar PLTN) terutama terkena radiasi dari Carbon 14 (C-14) dan gas Radon yang terpancar dari Uranium alam. Dari data statistik didapat bahwa kedua jenis radiasi ini menelan korban jiwa kurang lebih 1 orang tiap 20 juta MWH listrik yang dihasilkan PLTN per tahun. Tetapi karena kedua unsur tersebut mempunyai waktu paruh yang sangat besar, dampaknya akan terus terasa untuk masa-masa yang akan datang. Salah satu pencegahan adalah dengan menempatkan sisa-sisa Uranium tambang di bawah permukaan tanah dimana radiasinya akan ditahan oleh dinding lapisan penyekat khusus, tetapi karena praktek ini juga dilakukan untuk sisa Uranium yang telah tidak mengandung C-14 dan Radon, pada dasarnya belum ada tindakan khusus yang dicanangkan untuk penangangan bahaya dari kedua unsur ini.
Perlu disimak bahwa masalah radiasi bukan semata-mata berlaku untuk PLTN. Misainya untuk kapasitas 1.000MWe, PLTN menghasilkan 50kCi radiasi yang sebagian besar berasal dari gas Xenon dan Krypton sementara PLTU akan mengeluarkan 2Ci radiasi yang keluar dari cerobong asapnya. Meskipun jumlahnya jauh lebih kecil, radiasi dari PLTU mempunyai dampak kesehatan yang lebih besar karena kalau abu tersebut terhisap akan menetap di paru-paru, sumsum tulang atau jaringan yang lain dan merupakan ancaman yang kontinyu sementara radiasi PLTN lebih berupa sinar yang menembus tubuh dan tidak menetap. Pada kedua kasus ini, radiasi yang dihasilkannya masih berada jauh dibawah limit masing-masing.

Faktor Keamanan

Salah satu sumber ketidakpastian masyarakat tentang PLTN disebabkan oleh adanya kemungkinan kegagalan sistim yang mengakibatkan bencana pada PLTN, seperti yang terjadi di TMI dan Chernobyl. Karakterisitik bencana pada PLTN dapat didefinisikan sebagai insiden dengan "low probability, high consequences'. Suatu bencana disebut katastrofi jika mengakibatkan sedikitnya 3.000 korban jiwa atau 45.000 orang cedera; maka probabilitas terjadinya katastrofi adalah sangat kecil, yaitu 1 tiap 107 tahun. Disamping katastrofi, insiden-insiden dalam skala lebih kecil yang terjadi di PLTN diperkirakan mengakibatkan kurang lebih 2 korban jiwa tiap 20 juta MWh per tahun listrik dari kanker, tumor, penyakit genetik dan lain-lainnya. Karena pada PLTU angka korban insiden ini sedemikian kecilnya sehingga dapat diabaikan, faktor ini dapat dijadikan satu pertimbangan dalam memilih jenis Pembangkit Tenaga Listrik untuk sumber listrik kita di masa depan. Menjajagi segi keamanan (safety) dari kedua pilihan ini terhadap kemungkinan kecelakaan, terlihat bahwa sebagian besar risiko ditemui pada saat penambangan bahan bakar tersebut. Di AS, sejauh ini teknologi PLTU telah menelan 1.300 korban jiwa dan 40.000 orang cedera sementara untuk PLTN 5.000 orang cedera dan kurang dari 100 korban jiwa
Limbah nuklir sampai saat ini tetap menjadi sumber utama kecemasan masyarakat banyak tentang PLTN. Sebuah PLTN dengan kapasitas 1.000 MWe membutuhkan sekitar 1 metrik ton bahan bakar dan menghalkan limbah sebanyak kira-kira 70 liter per hari. Sampai tahun 1980, AS telah menghasilkan 36 juta ton limbah dengan radiasi rendah dan 8.300 ton limbah dengan radiasi tinggi. Jumlah ini sebenarnya menghasilkan dampak radiologis yang setingkat dengan ratusan juta ton sampah yang dihasilkan oleh PLTU. Hanya karena konsentrasi radiasi yang tinggi, limbah PLTN membutuhkan suatu penanganan yang khusus. Selama ini, sisa bahan bakar dengan radiasi tinggi disimpan sementara di kolam-kolam penampungan sehingga efek radiasi yang ditimbulkannya dapat diabaikan, tetapi dengan semakin meningkatnya pemakain PLTN dalam produksi listrik, kebutuhan akan suatu metode penyimpanan permanen yang tepercaya terasa semakin mendesak. Meskipun sejauh ini belum ada satu cara yang dapat diterima secara meluas, beberapa metode yang diusulkan meliputi penyimpanan di tambang garam, lapisan granit, dibawah lapisan air tanah atau di dasar laut. Satu syarat mutlak yang telah dipenuhi oleh lokasi-lokasi ini terjaminnya kestabilan geologis untuk masa-masa yang akan datang.
Untuk PLTN, satu tambahan pertimbangan adalah adanya ancaman terorisme, meskipun sampai sekarang belum ada realisasinya. Meskipun menurut para ahli penggelapan Plutonium untuk pembuatan bom nuklir sederhana lebih merupakan fiksi daripada kenyataan, hendaknya hal ini diperhitungkan juga dalam pemilihan jenis Pembangkit Tenaga Listrik dan lokasinya di masa mendatang. Tetapi dengan sikap waspada dan hati-hati yang selama ini dianut dalam lingkup penggunaan bahan nuklir dan fakta bahwa untuk Indonesia risiko ini adalah lebih kecil daripada di negara-negara lain yang lebih maju dan liberal, agaknya untuk saat ini hal tersebut hanya akan merupakan pertimbangan minor saja. q

Sosial/faktor Ekonomi

Secara umum, PLTN dapat digolongkan sebagai investasi dengan modal tinggi dan biaya tahunan yang rendah ( untuk bahan bakar, operasi dan pemeliharaan) atau disebut "high capital low annuities investment" sementara PLTU sebaliknya adalah sebuah investasi dengan " low capital high annuities ". Ini sedikit banyak dapat dihubungkan dengan perbedaan waktu konstruksi : 5-6 tahun untuk PLTU dan 7-10 tahun untuk PLTN. Oleh karenanya, biaya pembangunan PLTN lebih sensitif terhadap perubahan desain dan teknologi reaktor, perubahan standar keamanan, harga bahan baku reaktor dan suku bunga pinjaman dari kapital yang dipakai. Menurut statistik, pembangunan PLTN cenderung untuk "overbudget", dari hanya beberapa persen sampai sekitar dua kali lipat perkiraan biaya semula. Di lain pihak, PLTU lebih sensitif terhadap harga bahan bakar yang berubah-ubah sesuai dengan pasar yang ada meskipun biaya pembangunan tidak akan banyak beranjak dari yang semula diperkirakan. Untuk Indonesia, dimana penyediaan batubara untuk PLTU akan berasal dari perusahaan negara, faktor perubahan harga ini tidak akan sedrastis yang terjadi di pasar bebas.
Dari beberapa sumber yang dipakai untuk makalah ini diperoleh angka yang berbeda-beda untuk biaya rata-rata untuk kedua jenis pembangkit listrik ini, sehingga hanya dapat disimpulkan bahwa pada umumnya, terutama untuk negara-negara maju di Amerika Utara, Eropa Barat dan Asia, PLTN tergolong lebih murah dari PLTU untuk kapasitas listrik yang sama. Untuk negara-negara sedang berkembang yang masih harus mengimpor sebagian besar dari teknologi pembuatan reaktor tersebut, mungkin didapat angka yang berbeda untuk biaya pembuatan sebuah reaktor nuklir, tetapi sulit didapat data yang akurat untuk itu. Maka penulis hanya akan memberikan gambaran tentang angka-angka yang beriaku di negara-negara maju yang telah kami sebut di atas.
Maksud dari istilah biaya disini adalah rata-rata pertahun dari seturuh investasi yang dikeluarkan selama masa laik operasinya. Hanya saja untuk masa-masa mendatang harga sebuah PLTN akan mengalami tingkat kenaikan yang lebih tinggi daripada PLTU, terutama karena terdapatnya biaya de-commissioning (penutupan sebuah lokasi PLTN) yang tinggi. Oleh karena itu pada permulaan abad ke 21 nanti keduanya tidak akan berbeda jauh. Walaupun demikian harga PLTN tetap di bawah PLTU. Satu referensi mengungkapkan bahwa rendahnya harga PLTN tersebut dimungkinkan oleh adanya subsidi dari pemerintah setempat untuk memacu penggunaan teknologi baru ini. Tanpa subsidi tersebut, biaya sebuah PLTN mencapai 30-100% lebih mahal daripada PLTU. Tetapi teknologi maju yang didapat bisa dijadikan justifikasi untuk memilih teknologi tersebut meskipun dengan biaya yang lebih mahal.

Keuntungan dan Kerugian PLTN
Keuntungan PLTN dibandingkan dengan pembangkit daya utama lainnya adalah :
  • Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selama operasi normal) - gas rumah kacahanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan hanya sedikitmenghasilkan gas).
Tidak mencemari udara - tidak menghasilkan gas-gas berbahaya sepert karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, mercury, nitrogen oksida, partikulate atau asap fotokimia.
  • Sedikit menghasilkan limbah padat (selama operasi normal).
  • Biaya bahan bakar rendah - hanya sedikit bahan bakar yang diperlukan.
  • Ketersedian bahan bakar yang melimpah - sekali lagi, karena sangat sedikit bahanbakar yang diperlukan.
  • Baterai nuklir - (lihat SSTAR).
Berikut ini berberapa hal yang menjadi kekurangan PLTN :
  • Risiko kecelakaan nuklir - kecelakaan nuklir terbesar adalah kecelakaan Chernobyl(yang tidak mempunyai containment building).
  • Limbah nuklir - limbah radioaktif tingkat tinggi yang dihasilkan dapat bertahan hinggaribuan tahun.

Daftar pembangkit listrik di Indonesia
Nama
Lokasi
Kapasitas
Jenis dan jumlah pembangkit

2 x 22.1 MW;2 x 21,2 MW
PLTA total 4 unit 86,6 MW

4 x 71,50 MW
PLTA total 4 unit 286 MW

4 x 79,25 MW
PLTA total 4 unit 317 MW

2 x 41 MW
PLTA total 2 unit 82 MW

2 x 25 MW
PLTA total 2 unit 50 MW

2 x 90 MW
PLTA total 2 unit 180 MW

3 x 3,5 MW
PLTA total 3 unit 10,5 MW

4 x 17 MW
PLTA total 4 unit 68 MW

4 x 43,75 MW
PLTA total 4 unit 175 MW

4 x 4 MW
PLTA total 4 unit 16 MW

3 x 70 MW
PLTA total 3 unit 210 MW

3 x 38 MW
PLTA total 3 unit 114 MW

2 x 46,4 MW
PLTA total 2 unit 90 MW

2 x 14 MW
PLTA total 2 unit 28 MW

2 x 10,80 MW;1 x 6,30 MW
PLTA total 3 unit 17,1 MW

3 x 3,15 MW;1 x 0,70 MW
PLTA total 4 unit 3,85 MW


 ? PLTA

KecamatanPangalengan
3 x 6,40 MW
PLTA total 3 unit 19,2 MW
4 x 175 MW
PLTA total 4 unit 700 MW
8 x 126 MW
PLTA total 8 unit 1.008 MW
7 x 25 MW
PLTA total 7 unit 175 MW
KecamatanPangalengan
3 x 6,40 MW
PLTA total 3 unit 19,2 MW
4 x 2,48 MW
PLTA total 4 unit 9,92 MW
KecamatanPangalengan
5 x 6,27 MW
PLTA total 5 unit 6,27 MW
4 x 5,12 MW
PLTA total 4 unit 20,48 MW
4 x 3 MW
PLTA total 4 unit 12 MW
2 x 3,52 MW
PLTA total 2 unit 7 MW
1 x 12,4 MW
PLTA total 1 unit 12,4 MW
2 x 13,2 MW
PLTA total 2 unit 26,4 MW
2 x 8,2 MW
PLTA total 2 unit 16,4 MW
3 x 61,5 MW
PLTA total 3 unit 184,5 MW
1 x 23 MW
PLTA total 1 unit 23 MW
1 x 1,4 MW
PLTA total 1 unit 1,4 MW
1 x 1,1 MW
PLTA total 1 unit 1,1 MW
1469 MW
PLTA,PLTGU 1469 MW
3 x 5,8 MW
PLTA total 3 unit 23 MW
3 x 3,6 MW
PLTA total 3 unit 10,8 MW
2 x 1,35 MW;1 x 0,5 MW
PLTA total 3 unit 3 MW
1 x 4,48 MW
PLTA total 1 unit 4,48 MW
3 x 35 MW
PLTA total 3 unit 105 MW
2 x 27 MW
PLTA total 2 unit 54 MW
1 x 4,5 MW
PLTA total 1 unit 4,5 MW
2 x 14,5 MW
PLTA total 2 unit 29 MW
2 x 23 MW
PLTA total 2 unit 46 MW
2 x 7 MW
PLTA total 2 unit 14 MW
3 x 10 MW
PLTA total 3 unit 30 MW
1 x 4.44 MW;1 x 4,5 MW;1 x 5,44 MW
PLTA total 3 unit 14,38 MW
1 x 17,2 MW
PLTA total 1 unit 17,2 MW
1 x 19 MW
PLTA total 1 unit 19 MW
3 x 55 MW
PLTA total 3 unit 165 MW
2 x 65 MW
PLTA total 2 unit 130 MW
2 x 70 MW
PLTA total 2 unit 140 MW
2 x 63 MW
PLTA total 2 unit 126 MW
4 x 40 MW
PLTA total 4 unit 160 MW
3 x 65 MW
PLTA total 3 unit 195 MW
5 x 80 MW
PLTA total 5 unit 400 MW


? PLTG


? PLTG


? PLTG
3 x 10 MW
PLTA total 3 unit 30 MW PLTG
1 x 60 MW
PLTP total 1 unit 60 MW


? PLTP
Garut, Jawa Barat
375 MW
PLTP
Pangalengan, Bandung, Jawa Barat

? PLTP
2 x 100 MW
Unit III dan IV
Desa Asam-asam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan
2 x 65 MW
Unit I dan II
400 MW
5 PLTU
1384 MW
1230 MW
2 PLTU
1300 MW
2 PLTU
4 x 400 MW;3 x 600 MW
PLTU total 7 unit 3.400 MW
281 MW
12 PLTA
1.008 MW
8 PLTA
2.280 MW
5 PLTG, 1 PLTU dan 3 PLTGU
1.200 MW
5 PLTU dan 1 PLTGU
920 MW
2 PLTG dan 3 PLTGU
800 MW
2 PLTU
2 x 7 MW
1 PLTU
35 MW
Program PLTU 10.000 MW Tahap I
Untuk mempercepat ketersediaan listrik PLN membuat program untuk membuat 35 PLTU dengan total tenaga 10.000 MW. Ketiga puluh lima PLTU tersebut tersebar di jawa dan luar jawa. Untuk Jawa dibangun 10 buah PLTU, rinciannya sebagai berikut :[1]
No
Pembangkit
Tempat
Kapasitas
Keterangan
1
PLTU 1 Banten
Suralaya
1 x 625 MW
PLTU Batubara seharga US $ 428,794,037 yg menghemat BBM /tahun Rp.4,3 Triliun & menyerap tenaga kerja masa konstruksi 2.500 orang[2]
2
PLTU 2 Banten
Labuhan
2 x 300 MW
PLTU Batubara seharga US $ 492,940,279 yg menghemat BBM /tahun Rp.4,15 Triliun & menyerap tenaga kerja masa konstruksi 1.700 orang
3
PLTU 3 Banten
Lontar
3 x 315 MW
4
PLTU 1 Jawa Barat
Indramayu
3 x 330 MW
5
Pelabuhan Ratu
3 x 350 MW
Terletak di desa Citarik, kecamatan Palabuhan ratu, Proyek ini dikerjakan oleh konsorsium Shanghai Electric Corp Ltd dan Maxima Infrastruktur. Nilai kontraknya US$ 566,984 juta dan Rp 2,205 triliun [1]
6
PLTU 1 Jawa Tengah
Rembang
2 x 315 MW
PLTU Batubara seharga US $ 558.005.559 yg menghemat BBM /tahun Rp.4,15 Triliun & menyerap tenaga kerja masa konstruksi 1.700 orang
7
PLTU 2 Jawa Tengah
Cilacap
1 x 600 MW
8
PLTU 1 Jawa Timur
Pacitan
2 x 315 MW
PLTU Batubara seharga USD.379.469.024,- (incl. VAT) + Rp. 1.353.549.019.000,- (incl. VAT) proyek ini dikerjakan oleh konsorsium Dongfang Electric Corp Ltd dan PT Dalle Energy
9
PLTU 2 Jawa Timur
Paiton
1 x 660 MW
PLTU Batubara seharga US $ 466.257.004 yg menghemat BBM /tahun Rp.4,4 Triliun & menyerap tenaga kerja masa konstruksi 1.700 orang
10
PLTU 3 Jawa Timur
Tj. Awar–Awar Tuban
2 x 350 MW
Selengkapnya Lihat di [3]
11
PLTU Tanjung Jati B
Jepara
4 x 661 MW
Selengkapnya lihat di
Untuk diluar pulau jawa dan bali dibangun 25 PLTU, rinciannya sebagai berikut :
No
Pembangkit
Tempat
Kapasitas
Keterangan
1
PLTU NAD
Meulaboh
2 x 100 MW
2
PLTU 2 Sumatera Utara
Pangkalan Susu
2 x 200 MW
3
PLTU Sumatra Barat
Teluk Sirih
2 x 100 MW
4
PLTU 3 Bangka Belitung
Belitung
2 x 25 MW
5
PLTU 4 Bangka Belitung
Belitung
2 x 15 MW
6
PLTU 1 Riau
Bengkalis
2 x 10 MW
7
PLTU 2 Riau
Selat Panjang
2 x 7 MW
8
PLTU Kepulauan Riau
Tanjung Balai Karimun
2 x 7 MW
9
PLTU Lampung
Tarahan Baru
2 x 100 MW
10
PLTU 1 Kalimantan Barat
Kalimantan Barat
2 x 50 MW
11
PLTU 2 Kalimantan Barat
Bengkayang
2 x 25 MW
12
PLTU 1 Kalimantan Tengah
Pulang Pisau
2 x 60 MW
PLTU Pulang Pisau
13
PLTU Kalimantan Selatan
Asam-Asam
2 x 65 MW
PLTU Asam-asam unit III dan IV
14
PLTU 2 Sulawesi Utara
Amurang
2 x 25 MW
15
PLTU Sulawesi Tenggara
Kendari
2 x 10 MW
16
PLTU Sulawesi Selatan
Barru
2 x 50 MW
17
PLTU Gorontalo
Gorontalo
2 x 25 MW
18
PLTU Maluku
Maluku
2 x 15 MW
19
PLTU Maluku Utara
Tidore
2 x 7 MW
20
PLTU 1 NTB
Bima
2 x 15 MW
21
PLTU 2 NTB
Lombok
2 x 25 MW
22
PLTU 1 NTT
Ende
2 x 7 MW
23
PLTU 2 NTT
Kupang
2 x 15 MW
24
PLTU 1 Papua
Papua
2 x 7 MW
25
PLTU 2 Papua
Jayapura
2 x 10 MW

Kebutuhan PLTN di Indonesia
http://3.bp.blogspot.com/--MWVg8JCXMs/Tg1UIvyviXI/AAAAAAAAAEM/0LLHzsYg4z0/s320/pltn.JPG


Pada saat ini, kebutuhan energi di Indonesia semakin meningkat namun cadangan sumber energi utama yang tak terbarukan seperti minyak bumi, gas, dan batu bara semakin lama semakin menipis. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mengembangkan sumber daya energi alternatif seperti contohnya : bio massa, bio-etanol, biogas, serta sumber daya alam lain yang masih bisa dimanfaatkan untuk menggantikan fossil fuel seperti : panas bumi, air, angin, dan panas matahari.
Namun, masih ada satu energi alternatif lagi yang masih dalam pengembangan di Indonesia, yaitu energi nuklir. Pemanfaatan energi nuklir dapat meminimalkan ketergantungan negara dari energi fosil. Selain itu, pemanfaatan energi nuklir juga dapat mengurangi masalah pemanasan global yang sedang menjadi perhatian dunia saat ini.  Pada bidang kelistrikan, energi nuklir dapat dipakai pada sistem pembangkitan listrik tenaga nuklir (PLTN).
Dalam sudut pandang kebutuhan energi listrik di masa sekarang dan akan datang, sebagian besar masyarakat sepakat bahwa Indonesia harus meningkatkan produksi energinya yang sering gagal diantisipasi. Selain sebagai sumber penerangan, listrik mempunyai peranan lain, yaitu sebagai pendorong kemajuan perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, ada suatu hubungan antara konsumsi listrik dengan keadaan perekonomian suatu masyarakat. Dari beberapa sumber energi yang ada perlu ditentukan juga beberapa alternatif pilihan yang sudah sering ditawarkan oleh pemerintah dan banyak dibahas, dikaji, dikomentari oleh para pakar energi, pakar listrik, maupun masyarakat umum, dan PLTN merupakan salah satu alternatif untuk mengantisipasi kebutuhan listrik Indonesia yang terus meningkat tersebut.
Sedangkan kawasan kawasan Timur Tengah, sebagai kawasan negara sumber penghasil minyak saat ini kecenderungan untuk memanfaatkan PLTN sebagai opsi pemasok penaga listriknya. Seperti Uni Arab Emirat langsung merencanakan pembangunan PLTN empat unit dari sepuluh yang diusulkan. Sedangkan di Eropa khususnya negara Prancis, seluruh kebutuhan listrik negaranya di suplai dari PLTN.




Bab III.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir :
  • Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan stasiun pembangkit listrik thermal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik.
  • Pada proses kerja dari PLTN hampir sama dengan proses kerja dari PembangkitListrik Konvensional, hanya saja yang membedakannya adalah sumber panas yangdigunakan. Pada PLTN mendapatkan suplai panas dari reaksi nuklir.
  • PLTN dikelompokkan berdasarkan jenis reaktor yang digunakan, yaitu reaktor fisi danreaktor fusi.
  • Reaktor daya fisi membangkitkan panas melalui reaksi fisi nuklir dari isotop fissiluranium dan plutonium. Reaktor daya fisi dibagi menjadi : reaktor thermal, reaktor cepat dan reaktor subkritis.
  • Reaktor daya fusi menawarkan kemungkinan pelepasan energi yang besar denganhanya sedikit limbah radioaktif yang dihasilkan serta dengan tingkat keamanan yanglebih baik.
  • Beberapa usaha pengamanan dilakukan untuk melindungi kesehatan dan keselamatanmasyarakat, para pekerja reaktor dan lingkungan PLTN diantaranya denganpenghalang ganda dan pertahanan berlapis.
  • PLTN memiliki keuntungan dan kerugian dalam pelaksanaannya, diantara beberapakeuntungan salah satunya adalah Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selamaoperasi normal) gas rumah kaca hanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan hanya sedikit menghasilkan gas. Dan salah satu kerugiannya adalah Risiko kecelakaan nuklir - kecelakaan nuklir terbesar adalah kecelakaan Chernobyl(yang tidak mempunyai containment building).


DAFTAR PUSTAKA
Hardianto, Toto. Kuliah Pembangkitan : Opsi Nuklir Dalam Kebijakan Energi Nasional. ITB : 2009.
Hardianto, Toto. Kuliah Pembangkitan : Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Kelompok Keahlian Konversi Energi, ITB : 2009
www.batan.go.id
NN. Pemanfaatan PLTN sebagai Pembangkit Listrik Indonesia.
(Sumber: Andang Nugroho dan Hindro Mujianto - Permias)
Ir. Nanan Tribuana, Subdirektorat Pengawasan Lingkungan Ketenagalistrikan Ditjen LPE 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar